Baru-baru ini, ada kabar menarik dari sosok yang cukup dikenal publik Indonesia—Sri Mulyani. Nama yang biasanya muncul di berita soal APBN, krisis ekonomi, atau reformasi pajak. Tapi kali ini, bukan tentang itu. Ia pindah “panggung”, dari kementerian ke… kampus?
Ya, benar. Sekarang ia berada di Oxford. Bukan sebagai mahasiswa, tentu saja, melainkan mengajar. Katanya, jadi pengajar tamu di salah satu program kepemimpinan global mereka.
Kalau dipikir-pikir, cukup masuk akal sih. Dengan rekam jejak panjang di dunia ekonomi dan birokrasi, banyak hal yang bisa dia ceritakan. Dan bukan sekadar cerita textbook. Ini pengalaman langsung, yang mungkin cuma bisa di pahami kalau sudah pernah duduk di kursi panas pembuat kebijakan.
Menurut beberapa info yang beredar, materi yang di bahasnya beragam. Mulai dari bagaimana caranya bertahan saat ekonomi gonjang-ganjing, sampai ke soal integritas dalam kepemimpinan. Kelasnya di ikuti orang-orang dari berbagai negara. Katanya sih, ada pejabat, ada aktivis, bahkan ada tokoh bisnis.
Menariknya, ia juga terlibat dalam beberapa diskusi di luar kelas. Forum-forum kampus, panel-panel kebijakan, semacam itulah. Dan dari situ, tampaknya ia tetap terhubung dengan isu-isu global yang sekarang makin kompleks.
Tentu, kehadirannya di sana bikin banyak orang terkesan. Tapi bukan cuma soal prestise. Lebih dari itu, mungkin karena dia membawa perspektif yang praktikal. Realistis. Sesuatu yang kadang hilang dalam teori akademik.
Apa pun itu, langkah ini bisa jadi bentuk kontribusi lanjutan. Tak lagi menandatangani APBN, tapi tetap membentuk masa depan—lewat kelas dan dialog.