Seseorang di kampung itu bilang, sapinya di temukan mati. Bukan karena sakit, bukan karena jatuh. Tapi luka-lukanya aneh. Dalam, kasar, dan letaknya seperti bekas cakar. Sejak itu, pembicaraan soal harimau mulai terdengar lagi.

Entah sudah keberapa kalinya kabar seperti ini muncul, tapi yang satu ini bikin heboh. Mungkin karena tempatnya dekat pemukiman. Atau karena yang jadi korban bukan kambing, tapi sapi—besar, berat, dan biasanya aman.

Tak lama setelah laporan masuk, orang-orang dari BBKSDA datang. Mereka nggak langsung menyimpulkan apa-apa. Hanya melihat sekitar, mencatat, dan akhirnya memutuskan pasang kamera. Kamera jebakan, katanya. Tujuannya buat lihat apa benar harimau yang lewat.

Kamera itu di pasang diam-diam di beberapa titik. Lokasinya nggak dibuka ke publik, katanya supaya nggak diganggu. Yang jelas, posisinya di jalur yang biasa di lewati satwa.

Katanya sih, butuh waktu buat dapat gambar yang meyakinkan. Tapi warga sudah mulai resah. Ada yang takut keluar malam, ada yang mendekatkan kandang ke rumah. Beberapa malah mulai nyalain lampu terus semalaman.

BBKSDA minta warga tenang. Kalau lihat sesuatu yang aneh—jejak besar, suara geraman, atau ternak yang tiba-tiba hilang—mereka di minta lapor, bukan panik. Soalnya, kalau benar harimau, penanganannya nggak bisa sembarangan. Satwa di lindungi.

Sekarang mereka masih tunggu hasil kamera. Belum ada kepastian, belum ada keputusan. Tapi satu hal jelas: hutan itu belum sepenuhnya diam.