analisaid – Industri mebel Indonesia sedang tidak dalam situasi santai. Permintaan ada, pasar terbuka, bahkan peluang ekspor masih lebar. Tapi di balik itu, tekanannya juga makin terasa.

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) melihat ini dengan cukup jelas. Ada potensi, iya. Tapi tanpa kebijakan yang pas—yang benar-benar nyambung dengan kondisi di lapangan—potensi itu bisa lewat begitu saja.

Ketua HIMKI sempat menyinggung hal ini. Intinya sederhana, tapi berat: industri furnitur kita bisa tumbuh, bahkan besar, kalau di dorong dengan kebijakan yang tepat. Masalahnya, tidak selalu begitu yang terjadi.

Di lapangan, pelaku usaha masih berkutat dengan hal-hal mendasar. Bahan baku, misalnya. Ketersediaannya kadang tidak stabil. Lalu biaya logistik—ini cerita lama yang belum juga tuntas. Di tambah lagi regulasi yang kadang terasa menambah beban, bukan meringankan.

Rantai pasok jadi panjang. Biaya ikut naik. Ujungnya? Daya saing bisa tergerus pelan-pelan.

Belum lagi soal kepastian aturan. Ini yang sering di keluhkan. Bagi pelaku usaha, terutama yang bermain di pasar ekspor, stabilitas kebijakan itu bukan sekadar formalitas. Itu pegangan. Tanpa itu, mereka seperti berjalan tanpa peta.

Hari ini aturan begini, besok berubah lagi. Sulit untuk merencanakan produksi, apalagi ekspansi. Dan dalam bisnis, ketidakpastian seperti itu mahal harganya.

Sementara di luar sana, persaingan tidak menunggu. Negara lain—Vietnam, China, bahkan beberapa negara baru—datang dengan harga yang lebih agresif. Lebih murah, lebih cepat.

Di titik ini, industri furnitur Indonesia tidak bisa hanya bertahan dengan cara lama.

Kualitas harus naik. Desain harus lebih berani. Produk tidak cukup hanya bagus, tapi juga harus punya karakter. Itu yang mulai di tekankan HIMKI sebagai langkah strategis—bukan pilihan lagi, tapi kebutuhan.

Namun, industri tidak bisa berjalan sendiri. Itu juga yang terus di ulang.

Perlu ada kerja bareng. Pemerintah dan pelaku usaha duduk satu meja. Bukan sekadar diskusi formal, tapi benar-benar menyusun kebijakan yang realistis. Yang melihat kondisi lapangan apa adanya, bukan di atas kertas saja.

Karena kadang, yang terlihat sederhana di regulasi, di lapangan bisa jadi rumit.

Pelaku usaha juga berharap pendekatannya lebih fleksibel. Dunia usaha bergerak cepat, apalagi di tengah perubahan global seperti sekarang. Kalau kebijakan terlalu kaku, industri bisa tertinggal.

Di tengah semua tekanan itu, optimisme masih ada. HIMKI yakin, selama kebijakan di buat dengan perhitungan yang matang dan konsisten di jalankan, industri furnitur Indonesia masih punya peluang besar.

Bukan cuma bertahan.

Tapi juga bersaing. Bahkan menang, kalau momentumnya tepat.