analisaid – Harga minyak melonjak hari ini, besok bisa terjun. Gas alam pun sama lincahnya. Di tengah tarikan roller coaster itu, ekonom mengingatkan: ketahanan fiskal adalah sabuk pengaman utama agar anggaran negara tak mental ke dinding.

Para analis mencontohkan betapa satu kenaikan harga Brent setipis US$5 per barel saja bisa menggoyang pos subsidi dan menambal defisit. Karena itu, pemerintah—Indonesia atau negara mana pun—mesti sigap menyiapkan ruang gerak: disiplin belanja, rasio utang terkendali, serta cadangan kas darurat untuk skenario “worst-case”.

Lebih jauh, ketahanan fiskal bukan sekadar menambal kebocoran bahan bakar subsidi. Ia mencakup kemampuan meramu APBN yang elastis: ketika harga energi ambruk, pendapatan migas susut; ketika melejit, inflasi mengetuk pintu. Dua sisi itu menuntut respons cepat, kadang lewat realokasi belanja, kadang melalui instrumen pajak dan bea impor.

Di versifikasi energi ikut tersorot. Selama ketergantungan pada minyak dan gas masih tinggi, fiskal akan terus berkeringat tiap kali OPEC batuk atau geopolitik Timur Tengah demam. Maka investasi ke surya, angin, maupun biofuel di pandang sebagai “tabungan” fiskal jangka panjang—semakin besar porsi energi bersih, semakin kecil pasang-surut penerimaan migas memengaruhi neraca.

Intinya, fluktuasi harga energi adalah keniscayaan. Pertanyaannya: apakah bendahara negara telah menyiapkan payung sebelum petir berikutnya menyambar? Ekonom sepakat—jawabannya terletak pada seberapa tebal dan tangguh dinding ketahanan fiskal yang di bangun sejak sekarang.