analisaid.com – Kalau bicara Piala Dunia, yang terbayang biasanya gol di menit akhir, selebrasi pemain, atau debat soal siapa yang pantas jadi juara. Jarang yang langsung mengaitkannya dengan ekonomi nasional.

Tapi itulah yang sedang coba di bingkai oleh TVRI.

Lembaga penyiaran publik itu menyatakan komitmennya untuk ikut mendorong pergerakan ekonomi lewat momentum Piala Dunia 2026. Bukan sekadar menayangkan pertandingan, melainkan memanfaatkan sorotan global itu untuk membuka ruang bagi pelaku usaha dalam negeri.

Di internal manajemen, pembahasannya bukan cuma soal jadwal siaran atau teknis produksi. Ada hitung-hitungan dampak. Siaran yang menjangkau masyarakat luas—dan TVRI punya jangkauan itu—di pandang sebagai peluang. Iklan bisa bergerak. Kerja sama bisa di buka. Brand lokal bisa ikut muncul di tengah euforia sepak bola dunia.

Mereka menyebut, ajang sebesar Piala Dunia tidak hanya soal hiburan. Ada efek berantai yang bisa dikelola kalau serius. Industri kreatif, misalnya. Program pendukung, konten analisis, tayangan khusus—semuanya bisa melibatkan tenaga kerja, rumah produksi, hingga kreator lokal. Persiapannya di sebut sudah mulai di rancang, meski detailnya belum di ungkap satu per satu.

Di sisi lain, ada juga harapan pada sektor UMKM. Biasanya setiap event besar memicu pergerakan ekonomi, entah lewat iklan, promosi, atau aktivitas turunan lainnya. TVRI ingin platform siarannya menjadi ruang bagi pelaku usaha lokal untuk ikut tampil. Tidak hanya pemain bola yang jadi sorotan, tapi juga produk dalam negeri.

Sebagai lembaga penyiaran publik, posisi TVRI memang agak berbeda. Mereka membawa mandat layanan untuk masyarakat luas. Jadi ketika berbicara Piala Dunia 2026, narasinya bukan eksklusivitas, melainkan akses. Semua bisa menonton. Dan—kalau sesuai rencana—semua juga bisa merasakan dampaknya.

Tentu, optimisme seperti ini selalu terdengar menjanjikan di atas kertas. Realisasinya akan bergantung pada bagaimana strategi itu di jalankan. Apakah kolaborasi benar-benar terjadi? Apakah pelaku usaha lokal benar-benar mendapat ruang?

Yang jelas, TVRI tidak ingin partisipasinya di Piala Dunia 2026 berhenti pada tayangan pertandingan semata. Mereka ingin ada jejak ekonomi yang ikut bergerak. Sebuah perhelatan global yang, kalau di kelola dengan cermat, bisa memberi efek ke dalam negeri.

Sepak bola memang soal 90 menit di lapangan. Tapi bagi TVRI, tampaknya, ceritanya ingin di buat lebih panjang dari itu.