analisaid — Usai peluit panjang di bunyikan, wajah pemain Persita tak bisa menyembunyikan kepuasan. Sementara dari bangku cadangan, sang pelatih tampak kalem. Tapi jelas — kemenangannya atas Arema FC, Sabtu sore (30/12), bukan sekadar tiga poin biasa.
Ia tak banyak bicara. Tapi saat di minta komentar usai laga, pujian mengalir ke timnya.
“Mereka tahu apa yang harus di lakukan,” ujarnya singkat, sambil menoleh ke arah lapangan.
Disiplin, itu saja.
Bukan laga mudah. Intens dari awal. Arema bukan tim sembarangan. Tapi Persita bermain rapi. Bukan sempurna — tapi cukup.
Barisan belakang bermain sabar. Tengahnya padat. Sesekali ada celah, tapi tertutup cepat.
“Kami instruksikan tetap disiplin. Jangan terburu-buru. Dan mereka lakukan itu,” lanjut sang pelatih.
Mental tak goyah
Tekanan datang — terutama di 20 menit terakhir. Beberapa peluang Arema terlihat mengancam. Tapi tidak ada yang benar-benar jadi ancaman serius.
Di pinggir lapangan, pelatih terlihat berdiri hampir sepanjang babak kedua. Matanya tak lepas dari permainan. Fokus.
“Fokus sampai akhir. Itu yang saya tekankan,” katanya.
Bukan soal skema saja. Para pemain tahu momen mana harus bertahan, kapan harus menekan balik. Itu bukan sekadar strategi. Itu soal kebiasaan dan ketenangan.
Evaluasi tetap jalan
Lalu, apakah timnya sudah solid? Sang pelatih menggeleng.
“Belum. Masih banyak yang harus di benahi. Tapi ini langkah bagus.”
Evaluasi di lakukan. Besok pagi, katanya, tim kembali latihan ringan. Tidak ada selebrasi berlebihan. Musim belum separuh jalan.
Arema Berikan Perlawanan
Tim tamu tak tinggal diam. Mereka membangun serangan dengan pola cepat. Beberapa kali berhasil masuk ke sepertiga akhir lapangan.
Tapi finishing mereka kurang tajam. Dan Persita cukup solid menjaga area kotak penalti.
“Arema tetap tim bagus. Punya pengalaman. Makanya kami anggap kemenangan ini penting,” tutup sang pelatih.