analisaid – Ribuan jemaah memadati Situbondo, Jawa Timur, akhir pekan lalu. Mereka mengikuti napak tilas Nahdlatul Ulama (NU) yang digelar dengan suasana khidmat.
Sekitar 1.000 orang hadir. Ketua Umum PBNU juga tampak di tengah barisan, bersama sejumlah pejabat daerah. Suasana hangat, tapi teratur.
Menelusuri Jejak Sejarah NU
Pagi itu, para jemaah bergerak menyusuri titik-titik yang dulu jadi saksi perjalanan NU di wilayah ini. Rute yang dilewati bukan sembarangan—lokasi-lokasi bersejarah.
Tak hanya jalan kaki. Ada doa bersama, shalawat, dan jeda-jeda hening di beberapa titik. Semua berlangsung tertib. Tak ada dorong-dorongan. Tak ada suara gaduh.
Di satu momen, Ketua PBNU berbicara. Singkat, tapi mengena. Ia menekankan pentingnya menjaga warisan para pendiri NU. “Ini bukan sekadar ritual,” ujarnya.
Menurutnya, nilai perjuangan dari masa lalu masih relevan hari ini. Terutama buat generasi muda yang kerap terputus dengan sejarah.
Dukungan Pemerintah Daerah
Dari sisi pemerintah, Bupati Situbondo datang langsung. Ia menyampaikan apresiasi kepada panitia dan warga yang terlibat.
Ia menyebut, napak tilas bukan hanya urusan spiritual. Tapi juga jadi wadah mempererat harmoni sosial.
Aparat gabungan dan panitia tampak berjaga di beberapa titik. Penjagaan rapi, tanpa membuat suasana terasa kaku. Tak ada insiden berarti. Aman.
Silaturahmi, Refleksi, dan Tradisi
Lebih dari sekadar acara seremonial, napak tilas ini jadi ruang pertemuan. Warga NU dari berbagai kota datang. Bertemu. Berbincang. Bershalawat.
Panitia bilang, ini bukan yang terakhir. Kegiatan semacam ini akan terus didorong. Sebagai bagian dari merawat tradisi keislaman yang moderat dan bersahaja.