analisaid.com – Beberapa orang Semarang generasi 90-an mungkin masih ingat nama ini tanpa perlu berpikir lama: Hotel Siranda. Dulu, kalau ada keluarga dari luar kota datang, pilihan penginapan sering mengarah ke sana. Lokasinya enak. Tidak ribet di cari. Dan pada masanya, fasilitasnya terbilang lengkap.

Hotel itu pernah hidup. Betul-betul hidup.

Lampu menyala sampai malam. Tamu hilir-mudik. Resepsionis sibuk. Suasananya seperti hotel pada umumnya—tidak mewah berlebihan, tapi cukup di perhitungkan. Ia bagian dari lanskap kota, bukan bangunan yang asing.

Sekarang situasinya berbeda.

Bangunannya masih berdiri di tempat yang sama. Namun tidak ada lagi aktivitas yang terlihat. Tidak ada kendaraan tamu keluar-masuk. Cat di beberapa bagian tampak kusam. Area sekitar terlihat sepi. Sejumlah warga menyebut hotel itu sudah berhenti beroperasi sejak beberapa tahun lalu. Perlahan di tinggalkan.

Dan ketika sebuah bangunan besar berhenti di fungsikan, ruang kosong itu jarang benar-benar kosong. Biasanya di isi cerita.

Nama Hotel Siranda belakangan justru lebih sering muncul di media sosial, bukan sebagai rekomendasi menginap, melainkan dalam pembahasan soal bangunan terbengkalai di Semarang. Ada yang menyebut suasananya terasa sunyi, terutama malam hari. Sunyi yang mungkin biasa saja—karena memang tidak ada aktivitas—tetapi di internet, sunyi sering di terjemahkan lebih jauh.

Muncullah kisah-kisah bernuansa mistis. Beredar begitu saja. Dari unggahan ke unggahan. Dari komentar ke komentar. Padahal, sejauh ini tidak ada keterangan resmi yang menyatakan adanya peristiwa tertentu di lokasi tersebut. Tidak ada penjelasan formal tentang apa pun yang di luar logika.

Yang ada hanya bangunan yang tidak lagi di gunakan.

Perubahan fungsi seperti ini sebenarnya bagian dari dinamika kota. Semarang terus berkembang. Ada properti yang bertahan, ada yang berhenti. Hotel Siranda termasuk yang kedua. Dari penginapan yang dulu di kenal luas, kini lebih sering di bicarakan karena kondisinya yang kosong.

Apakah akan ada revitalisasi? Apakah bangunan itu akan difungsikan kembali? Sampai sekarang belum ada informasi resmi soal rencana tersebut. Semuanya masih spekulasi.

Yang jelas, kisah Hotel Siranda menunjukkan satu hal sederhana: ketika sebuah tempat yang dulu ramai tiba-tiba berhenti beroperasi, ingatan orang tidak ikut berhenti. Ia berubah bentuk. Kadang jadi nostalgia. Kadang jadi cerita yang d ilebih-lebihkan.

Bangunannya tetap sama. Yang berubah adalah cara orang membicarakannya.