analisaid.com – Di dapur, yang menentukan bukan cuma resep. Tapi tangan yang mengolahnya. Dan itu yang kini sedang di garisbawahi Kementerian Ekonomi Kreatif.
Program MBG—yang di gadang sebagai salah satu penggerak sektor kuliner dalam ekosistem ekonomi kreatif—tidak hanya bicara soal output. Bukan sekadar berapa banyak produk di hasilkan atau seberapa luas distribusinya. Ada hal yang lebih mendasar: siapa yang memasak, dan seberapa siap mereka.
Kemenekraf belakangan ini memberi perhatian lebih pada peningkatan kompetensi juru masak yang terlibat dalam program tersebut. Bukan tanpa alasan. Di industri kuliner, kualitas bisa runtuh hanya karena detail kecil di dapur. Teknik yang kurang presisi. Standar kebersihan yang longgar. Atau manajemen dapur yang berantakan.
Karena itu, penguatan sumber daya manusia jadi fokus. Pelatihan di gelar. Sertifikasi di dorong. Standar operasional di perjelas. Tujuannya sederhana tapi krusial: menjaga mutu.
Program MBG sendiri dirancang sebagai bagian dari pengembangan ekonomi kreatif, dengan sektor kuliner sebagai salah satu tulang punggungnya. Dan di sektor ini, daya saing tidak bisa di topang hanya oleh ide atau branding. Kualitas rasa, konsistensi produk, keamanan pangan—semuanya bergantung pada kapasitas orang-orang di balik kompor.
Peningkatan kompetensi yang di maksud bukan hanya soal teknik memasak. Ada aspek higienitas yang di tekankan. Keamanan pangan, tentu. Manajemen dapur juga masuk dalam daftar perhatian. Hal-hal yang mungkin terdengar teknis, tapi justru menentukan keberlanjutan sebuah program. Salah kelola sedikit saja, dampaknya bisa panjang.
Kemenekraf menyebut kolaborasi sebagai kunci. Mereka menggandeng lembaga pelatihan dan asosiasi profesi untuk memastikan proses peningkatan kapasitas ini tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada standar yang ingin di samakan, ada kualitas yang ingin di ratakan.
Pada akhirnya, penguatan MBG bukan cuma soal memperbesar program. Tapi memperdalam kualitasnya. Karena di sektor kuliner, reputasi di bangun dari konsistensi. Dan konsistensi lahir dari kompetensi. Itu yang sedang di bidik.