analisaid.com – Angka itu muncul begitu saja di layar pemantauan: 44.918 kendaraan. Bukan sedikit. Itulah jumlah mobil yang tercatat meninggalkan Jakarta lewat Jalan Layang MBZ pada H-3 menjelang Imlek.

H-3, artinya hitung mundur sudah benar-benar terasa. Di jalan, suasananya juga begitu. Lebih padat dari biasanya. Lebih ramai, meski belum sampai macet panjang yang bikin orang mengeluh keras-keras.

Data tersebut di himpun dari pemantauan arus lalu lintas oleh pengelola tol. Di bandingkan hari normal, volume kendaraan jelas melonjak. Tidak ekstrem, tapi cukup terasa. Angkanya berbicara sendiri. Momentum libur Imlek tampaknya di manfaatkan banyak warga untuk keluar kota—entah mudik singkat, liburan keluarga, atau sekadar menghindari hiruk-pikuk ibu kota.

Jalan Layang MBZ, yang membentang di atas jalur utama menuju arah timur, memang sering jadi andalan. Terutama saat periode libur panjang. Ruas ini di anggap lebih “lega”, setidaknya secara psikologis, karena terpisah dari jalur bawah yang biasanya lebih padat. Arah Cikampek dan sekitarnya jadi tujuan utama arus kendaraan yang bergerak meninggalkan Jakarta.

Di lapangan, pengelola memastikan arus tetap terkendali. Ramai, iya. Tapi masih dalam batas aman. Petugas di siagakan di sejumlah titik untuk mengantisipasi kepadatan yang bisa saja muncul sewaktu-waktu. Lonjakan kendaraan menjelang hari besar seperti Imlek bukan hal baru, namun tetap perlu pengawasan ketat. Situasi di jalan bisa berubah cepat—cukup satu insiden kecil untuk memicu antrean panjang.

Imbauan pun kembali di gaungkan. Pengguna jalan di minta menyiapkan perjalanan dengan matang. Cek kendaraan. Pastikan bahan bakar cukup. Patuhi rambu. Hal-hal yang terdengar sederhana, bahkan klise, tapi justru sering di abaikan ketika orang terburu-buru mengejar waktu atau ingin cepat sampai.

Pergerakan kendaraan di perkirakan masih akan terus meningkat mendekati hari-H. Karena itu, pemantauan arus lalu lintas tetap di lakukan secara berkala. Tidak ada yang ingin perjalanan menjelang Imlek berubah jadi pengalaman yang melelahkan.

Angkanya sudah tercatat: hampir 45 ribu kendaraan dalam sehari. Dan itu baru satu jalur. Jakarta, seperti biasa, perlahan mengosongkan dirinya setiap kali libur panjang tiba.